Jumat, 29 Mei 2015



ASUHAN  PADA KLIEN YANG MENGHADAPI
KEHILANGAN DAN KEMATIAN

(Diajukan untuk memenuhi tugas keterampilan dasar Kebidanan)




DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3
1.      DESI WAHYUNI   ( 010.01.01.14)
2.      LIA AMBARWATI ( 026.01.01.14)
3.      MILAHWATI          (031.01.01.14)



AKADEMI KEBIDANAN BINAHUSADA
TANGERANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah senantiasa melimpahkan rahmat dan kasihnya  sehingga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Penyusun juga panjatkan  kehadirat Tuhan Yang maha Esa karena hanya dengan  berkatNya makalah dengan judul “ASUHAN PADA KLIEN YANG MENGHADAPI KEHILANGAN DAN KEMATIAN” ini dapat diselesaikan .
Penulis menyadari betul sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak makalah ini tidak akan terwujud dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati kami berharap saran dan kritik demi perbaikan-perbaikan lebih lanjut, kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.


Tangerang, 04 Maret 2015
      Penyusun,                         













BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
       Kehilangan, dan kematian adalah peristiwa dari pengalaman manusia yang bersifat universal dan unik secara individual.Hidup adalah serangkaian kehilangan dan pencapaian.Seorang anak yang mulai belajar mencapai kemandirian dengan mobilitas.Seorang lansia dengan perubahan visual dan pendengaran mungkin kehilangan keterandalan-dirinya.( Potter& Perry edisi 4, 2005)
Perawat berkerja sama dengan klien yang mengalami berbagai tipe kehilangan. Mekanisme koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi dan menerima kehilangan. Perawat membantu klien untuk memahami dan menerima kehilangan dalam konteks kultur mereka sehingga kehidupan mereka dapat berlanjut. Dalam kultur Barat, ketika klien tidak berupaya melewati duka cita setelah mengalami kehilangan yang sangat besar artinya, maka akan terjadi masalah emosi, mental dan sosial yang serius.
Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga yang mengalami kehilangan dan dukacita. Penting bagi perawat memahami kehilangan dan dukacita. Ketika merawat klien dan keluarga, parawat juga mengalami kehilangan pribadi ketika hubungan klien-kelurga-perawat berakhir karena perpindahan, pemulangan, penyembuhan atau kematian. Perasaan pribadi, nilai dan pengalaman pribadi mempengaruhi seberapa jauh perawat dapat mendukung klien dan keluarganya selama kehilangan dan kematian (Potter & Perry, 2005).


1.2     Permasalahan
       Adapun permasalahan yang kami angkat dari makalah ini adalah bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan kehilangan dan kematian  disfungsional.
1.3       Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, adalah:
a.     Mengetahui  pengertian pasien yang kehilangan.
b.     Mengetahui karakteristik situasi kehilangan dan kematian.
c.     Mengetahui pengertian klien yang hamper meninggal (sakratul maut)
d.     Mengetahui merawat jenazah


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

2.1     Kehilangan
2.1.1 Definisi kehilangan
Kehilangan adalah perubahan dari sesuatu yang ada menjadi tidak ada atau situasi yang diharapkan terjadi tidak tercapai. Dapat dikatakan bahwa kehilangan adalah suatu kondisi ketika seseorang mengalami kekurangan sesuatu yang sebelumnya ada, misalnya kematian orang yang dicintai dan pemutusan hubungan kerja (PHK).Berduka adalah respon individu terhadap kehilangan.( Dr.BudiAnna Keliat, S.Kp,MApp.Sc DKK, 2002)
2.1.2  Sumber kehilangan
          Sumber kehilangan yang dapat diidentifikasi, adalah sebagai berikut;
1. Kehilangan orang yang dicintai, misalnya perpisahan, kematian, perceraian.
2. Kehilangan aspek diri ( biopsikososial), misalnya kehilangan fungsi tubuh (biologis),kehilangan peran social (pekerjaan, kedudukan).
3. Kehilangan objek eksternal misalnya, kehilangan uang atau harta benda, rumah, dan hewan kesayangan.
4. Kehilangan lingkungan yang telah dikenal.
(Dr.Budi Anna Keliat, S.Kp,MApp.Sc DKK, 2002)
2.1.2 Tahap-tahap kehilangan
Proses berduka yang disebabkan oleh kehilangan dibagi dalam lima tahap, yaitu;
1.             Tahap penyangkalan
Reaksi pertama individu yang kehilangan adalah terkejut, tidak percaya, merasa terpukul dan menyagkal pernyataan bahwa kehilangan itu betul terjadi. Individu yang mengalami kehilangan ( kematian) orang yang dicintai seolah-olah orang tersebut masih hidup. Dia mungkin mengalami halusinasi melihat orang yang meninggal tersebut berada ditempat biasanya ia berada atau merasa mendengar suaranya.Reaksi fisik yang terjadi pada tahap penyangkalan adalah keletihan, kelemahan, kepucatan, mual, diare, sesak nafas, detak jantung cepat, menangis, gelisah. Reaksi demikian dapat berlangsung selam beberapa menit sampai beberapa tahun.
2.             Tahap Marah
Serupa dengan individu dengan keadaan menjelang ajal, individu mulai sadar tentang kenyataan kehilangan yang terjadi.Individu menunujukkan perasaan marah yang meningkatkan dan sering diprojeksikan kepada orang yang ada dilingkungannya atau orang-orang tertentu. Reaksi fisik yang sering terjadi pada thap ini antara lain wajah merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal.
3.             Tahap tawar menawar
Apabila individu telah mampu mengungkapkan rasa marahnya, maka ia maju tahap tawar menawar. Reaksi sering dinyatakan dengan kata-kata “seandainya saya hati-hati”, “kenapa harus terjadi pada keluarga saya”.
4.             Tahap Drepresi
Pada tahap ini individu sering menunujukkan sikap menarik diri, tidak mau bicara atau putus asa. Gejala fiisik yang sering diperlihatkan adalah menolak makan, susah tidur, letih, libido menurun.
5.             Tahap penerimaan
Tahap ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan.Pikiran yang selalu terpusat dengan objek atau orang yang hilang akan mulai berkurang atau menghilang. Individu telah menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya, gambaran tenntang objek atau orang yang hilang mulai dilepaskan dan secara bertahap perhatian dialihkan kepada objek yang baru. Tahap penerimaan ini biasanya diungkapkan dengan kalimat “saya betul-betul menyayangi tas saya yang hilang, tetapi tas saya yang ini manis juga”.  ( Suliswati, S.Kp,M.Kes dkk 2012)

2.2       Kematian
2.2.1    Definisi Kematian
            Kematian/mati adalah apabila seseorang tidak teraba denyut nadinya, tidak bernafas, selama beberapa menit, dan dan tidak menunjukan segala refleks, serta tidak ada kegiatan otot. (H. Wahyudi Nugroho, B.Sc.,SKM)
2.2.2        Penyebab Kematian
1.      Penyakit
a.       Keganasan (korsinoma hati, paru, mammae).
b.      Penyakit kronis, misalnya:
·                     CVD (cerebrovasukular diseases)
·                     CRF (chronic renal failure [gagal ginjal])
·                     Diabetes mellitus (gangguan indokrin)
·                     MCI (myocard infarct [gangguan kardiopaskular])
·                     COPD (chronic obstruction pulmonary diseases)
2.  Kecelakaan (hematoma epidural)
Ciri/tanda klien lanut usia menjelang kematian.
1.      Gerakan dan pengindraan menghilang secara beransur-ansur, biasanya dimulai pada anggota badan khususnya kaki dan ujung kaki.
2.      Gerakan peristatik usus menurun.
3.      Tubuh klien lanjut usia tampak mengembung.
4.      Badan dingin dan lembab terutama pada kaki tangan, tangan, dan ujung hidungnya.
5.      Kulit tambah pucat berwarna kebiruan atau kelabu.
6.      Denut nadi mulai tidak teratur.
7.      Nafas berdengkur berbunyikeras (stridor) yang disebabkan oleh adanya lendir pada saluran pernafasan yang tidak dapat dikeluarkan oleh klien lanut usia.
8.      Tekanan darah menurun.
9.      Terjadi gangguan keasadaran (ingatan menjadi kabur)

2.2.3        Tahap Kematian
            Tahap-tahap ini tidak selamanya berurutan secara tetap, tetapi dapat saling tindih. Apabila tahap tertentu berlangsung sangat singkat, bisa timbul kesan Seolah-olah klien lanjut usia melompatisatu tahap, kecuali jika perawa tmemerhatikan secara sesame dan cermat.
1.         Tahap pertama (penolakan)
Tahap ini adalah tahap kejutan dan penolakan.Biasanya,sikap itu ditandai dengan komentar,“Saya?Tidak,itu tidak mungkin,”selama tahap ini,klien lanjut usia sesungguhnya mengatakan bahwa maut menimpa semua orang, kecuali dirinya.Klien lanjut usia biasanya terpengaruhioleh sikap penolakannya sehinggaia tidak memperhatikanfaktayang mungkin sedang dijelaskan kepadanya oleh perawat.Ia bahkan menekan apa yang telah ia dengar atau mungkin akan meminta pertolongan  dari berbagai macam sumber professional dan nonprofessional dalam upaya melarikan diri dari kenyataan bahwa maut sudah berada diaambang pintu.
2.         Tahap kedua (Marah )
Tahap ini ditandai rasa marah dan emosi yang tidak terkendali. Klien lanjut usia itu berkata, “Mengapa saya ?”Sering kali klien lanjut usia akan selalu mencela setiap orang dalam segala hal. Ia mudah marah terhadap perawat dan petugas kesehatan lainnya tentang apa yang mereka lakukan. Pada tahap ini, klien lanjut usia lebih menganggap hal ini merupakan hikmah, dari pada kutukan. kemarahan disini merupakan mekanisme pertahanan diri klien lanjut usia. Akan tetapi, kemarahan sesungguhnya tertuju kepada kesehatan dan kehidupan.Pada saat ini, perawat kesehatan harus hati-hati dalam memberi penilaian  sebagai reaksi yang normal terhadap kematian yang perlu diungkapkan.
3.         Tahap ketiga (tawar-menawar)
Pada tahap ini klien lanjut usia padahakikatnya berkata, “ya, benar aku, tetapi….”Kemarahan biasanya mereda dan klien lanjut usia dapat  menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang sedang terjadi dengan dirinya.Akan tetapi pada tahap tawar menawar ini  banyak orang cenderung meyelesaikan urussan rumah tangga mereka sebelum maut tiba, dan akan menyampaikan beberapa hal, misalnya membuat surat dan mempersiapkan jaminan hidup bagi orang yang tercinta sebelum ditingalkan.
Selama  tawar menawar, permohonan yang dikemukahkan hendaknya dapat dipenuhi karena merupakan urusan yang belum selesai dan harus diselesaikan sebelum mati. Misalnya, klien lanjut usia mempunyai permintaan terahir untuk  melihat pertandingan olahraga, mengunjungi kerabat, melihat cucu terkecil, atau makan direstoran. Perawat dianjurkan memenuhi permohonan itu karena membantu klien lanjut usia memasuki tahap berikutnya.
4.         Tahap keempat(sedih/depresi)
Pada tahap ini klien lanjut usia pada hakikatnya berkata, “ya, bener aku”. Hal ini biasanya merupakan saat yang menyedikan karena klien lanjut usia sedang dalam suasana berkabung. Dimasa lampau, dia sudah kehilangan orang yang dicintai dan sekarang dia akan kehilangan nyawanya sendiri. Bersamaan dengan itu, ia harus meningalkan semua hal yang menyenangkan yang telah dinikmatinya. Selama tahap ini,klien lanjut usia cenderung tidak banyak bicara dan sering menangis. Saatnya bagi perawat untuk duduk dengan tenang disamping klien lanjut usia yang seadang melalui masa sedihnya sebelum meningeal.
5.         Tahap kelima(menerima/asertit)
Tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian. Menjelang saat ini, klien lanjut usia telah membereskan segala urusan yang belum selesai dan memungkinkan tidak ingin bicara lagi karena sudah menyatakan segala sesuatunya. Tawar-menawar sudah lewat dan tibahlah saat kedamaian dan ketenangan. Seseorang mungkin saja lama ada dalam tahap menerima , tetapi bukan tahap pasrah yang berarti kekalahan. Dengan kata lain, pasrah pada maut tidak berarti menerima maut.
2.2.4    Pengaruh Kamatian
            Pengaruh kematian terhadap keluarga klien lanjut usia.
1.      Bersikap kritis terhadap cara perawatan.
2.      Keluarga dapat menerima kondisinya.
3.      Terputusnya komunikasi dengan orang yang menjelang maut.
4.      Penyeselan keluarga dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak dapat mengatasi rasa sedih.
5.      Pengalihan tanggung jawab dan beban ekonomi.
6.      Keluarga menolak diagnosis. Penolakan tersebut dapat membesar beban emosi keluarga.
7.      Mempersoalkan kemampuan tim kesehatan.
Pengaruh kematian terhadap tetangga atau teman.
1.      Simpati dan dukungan moril.
2.      Meremehkan atau mencela kemampuan tim kesehatan.
( H. Wahyudi Nugroho, B.Sc.,SKM)
2.2.4    Tanda dan gejala berduka
Ø    Efek Fisik
·                     Letih
·                     Selera makan hilang
·                     Masalah tidur
·                     Kurang tenaga
·                     Berat badan menurun
·                     Nyeri kepala
·                     Pandangan kabur
·                     Sulit bernapas
·                     Palpitasi
·                     Berat badan meningkat
·                     Lengan gatal
·                     gelisah
Ø  Efek emosional dan / atau psikologis
·                     Menyangkal
·                     Rasa bersalah
·                     Marah
·                     Benci/dendam
·                     Pahit atau getir
·                     Depresi
·                     Merasa gagal
·                     Konsentrasi pada masalah
·                     Gagal menerima kenyataan
·                     Terpaku pada kematian
·                     Konfusi waktu (time confusional)
·                     Iritabilitas (mudah tersinggung)

Ø  Efek sosial
·                     Menarik diri dari aktivitas normal
·                     Isolasi (emosional dan fisisk) dari pasangan,keluarga,atau teman-teman
(Bobak.Lowdermilk. Jensen) (2012)
2.2.5    Karakteristik situasi kehilang, menurut burgers dan lazare (1976)
1.                   Berduka yang menunjukkan reaksi syok dan ketidak yakinan.
2.              Berduka yang menunjukkan perasaan sedih dan hampa bila teringat       tentang kehilangan orang yang disayangi.
3.              Berduka yang menunjukkan perasaan tidak nyaman dan sering disertai dengan menangis, serta keluh-keluhan sesak pada dada, rasa tercekik, napas pendek.
4.              Mengenang almarhum terus menerus.
5.              Memperolreh pengalaman perasaan berduka.
6.              Cenderung menjadi mudah tersinggung dan marah.
(Suliswati, S.Kp,M.Kes dkk 2012)
2.2       Pengertian klien yang hampir meninggal (sakratul maut)
2.3.1    Definisi Menjelang Sakratul maut.
            Hampir meninggal atau menjelang ajal adalah kondisi ketika secara medis dan legal indivindu sudah tidak dapat di obati dan diintervensi yang berhubugan dengan kematian atau fase kehidupan, dan individu sangat ansietas menghadapinya.Keluarga dapat mengetahui kondisi ini dari tenaga kesehatan atau tanda dan gejala yang diperlihatkan oleh pasien.Kondisi ini mempengaruhi respons keluarga dalam menghadapi anggota keluarga yang menjelang ajal, baik presepsi personal keluarga ataupun pengaruh spiritual dan pengalaman yang dimiliki keluarga.
            Proses kematian diawali dengan terjadinya gangguan fumgsional sirkulasi (denyut nadi melemah) dan respirasi (napas melambat) secara mendadak,tidak adanya aktifitas jantung (henti jantung), kehilangan total fungsi serebral, tidak adanya respons eksternal, tidak adanya refleks sensorik, dan hipotermia. Situasi kematian dapat terjadi secara terduga dan tidak terduga.Keluarga sebagai system pendukung, memiliki koping yang bervariasi termasuk respons terhadap kondisi menjelang ajal. (Musrifatul Uliyah, dkk 2008)
2.3.2    Tanda-tanda pasien menjelang ajal
   1. Sedih dan Menangis.
   2. Ketakutan.
   3.Kesakitan.
   4. Sulit tidur dan gelisah.
   5. Tidak mampu berkonsentrasi.
   6. Menarik diri dan fasif.
   7. Menyesali diri dan rassa bersalah.
( Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp.M.App.Sc DKK th 2002)
2.3.3 Merawat Jenazah
Ø    Perawatan setelah kematian
Disebagian besar negara bagian dokter bertanggung jawab untuk mencatat kematian dalam catatan medis dengan menuliskan waktu kematian dan deskripsi terapi dan tindakan yang dilakukan.Dokter mungkin membutuhkan ijin dari keluarga untuk melakukan autopsi.Autopsi diperlukan dalam situasi kematian yang tidak wajar (misalnya trauma tindak kekerasan atau kematian diluar dugaan yang terjadi dirumah).

2.3.4 Perubahan Fisiologis Sesudah Kematian
Perubahan                                                                Intervensi yang berhubungan
Kekuan (rigor mortis)  yang terjadi 2-4 jam sesudah kematian (yang mencakup kontraksi skelet dan otot akibat tidak adanya adenosin trifosfat).
Sebelum terjadinya rigor mortis, posisikan tubuh dalam posisi anatomis, tutup mata, dan pasang gigi palsu dalam mulut.
Penurunan suhu tubuh dengan kehilangan elastisitas kulit (algor mortis).
Lepaskan plester dan balutkan dengan perlahan untuk menghindari kerusakan jaringan. Hindari menarik kulit atau bagian tubuh.
Perubahan warna kulit menjadi keunguan (lipor mortis) pada bagian dependen akibat pecahya sel darah merah..
Tinggikan kepala untuk mencegah perubahan warna pada wajah.
Pelunakan dan pencairan jaringan tubuh oleh fermentasi bakteri.
simpan tubuh dalam teapat yang dingin dikamar mayat rumah sakit atau ditempat lain yang ditunjukkan.

2.2.5        Perawatan pada jenazah
1.      Tempatkan dana atur jenazah pada posisi anatomis.
2.      Singkirkan pakaian.
3.      Lepaskan semua alat kesehatan.
4.      Bersihkan tubuh dari kotoran dan noda.
5.      Tempatkan kedua tangan jenazah di atas abdomen dan ikat pergelangannya (berganutung dari kepercayaan atau agama).
6.      Tempatkan satu bantal di  bawah kepala.
7.      Tutup kelopak mata. Jika tiadak ada tutup, bisa menggunakan kaps basah.
8.      Katupkan rahang atau mulut, kemudian ikat dal letakkan gulungan handuk di bawah dagu.
9.      Letakkan alas di bawah glueta.
10.  Tutup samapai sebatas bahu, kepala di tutup dengan kain tipis.
11.  Catat semua milik pasien dan berikan kepada keluarga.
12.  Beri kartu atau tanda pengenal.
13.  Bungkus jenazah dengan kain panjang.

2.2.6        Perawatan jenazah yang akan diotopsi
1.      Ikuti prosedur rumah sakit dan jangan lepas alat kesehatan.
2.      Beri label pada pembungkus jenazah.
3.      Beri label pada alat protesis yang digunakan.
4.      Tempatkan jenazah pada lemari pendingin.
2.2.7        Perawatan terhada keluarga
1.      Dengarkan ekspresi keluarga.
2.      Beri kesempatan bagi kelaurga untuk bersama dengan jenazah beberapa saat.
3.      Siapkan ruangan khusus untuk berduka.
4.      Bantu keluarga untuk membuat keputusan dan perencanaan pada jenazah.
5.      Beri dukungan jika terjadi disfungsi berduka.
(salemba medika, Musrifatul Uliyah. A.Aziz Alimul Hidayat DEPKES/2008)









BAB III
PENUTUP

4.1    Kesimpulan
Kehilangan, dan kematian adalah peristiwa dari pengalaman manusia yang bersifat universal dan unik secara individual.Hidup adalah serangkaian kehilangan dan pencapaian.Seorang anak yang mulai belajar mencapai kemandirian dengan mobilitas.Seorang lansia dengan perubahan visual dan pendengaran mungkin kehilangan keterandalan-dirinya.
Kematian/mati adalah apabila seseorang tidak teraba denyut nadinya, tidak bernafas, selama beberapa menit, dan dan tidak menunjukan segala refleks, serta tidak ada kegiatan otot.
Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.
Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan,objek dan ketidakmampuan fungsional.Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal,abnormal,atau kesalahan/kekacauan.
Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati.






DAFTAR PUSTAKA

Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan volume 1. Jakarta: EGC.
Suliswati. 2012. Konsep dasar Keperawtan Kesehatan jiwa: Berduka dan kehilangan. Jakarta: EGC
keliat. 2011. Manajemen Keperawatan Psikososial & Kader Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Nugroho Wahjudi H. 2011. Keperawatan Gerontik & Geriantik, ed.3. Jakarta: ECG.
Bobak Irene M. 2012.Keperawatan Maternetas, ed.4. Jakarta: ECG.
Musrifatul Hidayat. 2008. Keterampilan Dasar Praktek Klinik, ed.2.Jakarta: Salemba Medika.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar