KEHILANGAN DAN KEMATIAN
(Diajukan untuk memenuhi tugas keterampilan dasar Kebidanan)

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK
3
1.
DESI WAHYUNI (
010.01.01.14)
2.
LIA AMBARWATI (
026.01.01.14)
3. MILAHWATI
(031.01.01.14)
AKADEMI KEBIDANAN BINAHUSADA
TANGERANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah senantiasa melimpahkan rahmat
dan kasihnya sehingga kita semua dalam
keadaan sehat walafiat dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Penyusun juga panjatkan kehadirat Tuhan Yang maha Esa karena hanya
dengan berkatNya makalah dengan judul
“ASUHAN PADA KLIEN YANG MENGHADAPI KEHILANGAN DAN KEMATIAN” ini dapat
diselesaikan .
Penulis
menyadari betul sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak makalah ini
tidak akan terwujud dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu dengan
segala kerendahan hati kami berharap saran dan kritik demi perbaikan-perbaikan
lebih lanjut, kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
yang membutuhkan.
Tangerang, 04 Maret 2015
Penyusun,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehilangan, dan kematian adalah peristiwa dari pengalaman manusia yang bersifat universal dan unik
secara individual.Hidup adalah serangkaian kehilangan dan pencapaian.Seorang
anak yang mulai belajar mencapai kemandirian dengan mobilitas.Seorang lansia
dengan perubahan visual dan pendengaran mungkin kehilangan
keterandalan-dirinya.( Potter& Perry edisi 4, 2005)
Perawat
berkerja sama dengan klien yang mengalami berbagai tipe kehilangan. Mekanisme
koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi dan menerima
kehilangan. Perawat membantu klien untuk memahami dan menerima kehilangan dalam
konteks kultur mereka sehingga kehidupan mereka dapat berlanjut. Dalam kultur
Barat, ketika klien tidak berupaya melewati duka cita setelah mengalami
kehilangan yang sangat besar artinya, maka akan terjadi masalah emosi, mental
dan sosial yang serius.
Kehilangan dan kematian adalah realitas yang
sering terjadi dalam lingkungan asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat
berinteraksi dengan klien dan keluarga yang mengalami kehilangan dan dukacita.
Penting bagi perawat memahami kehilangan dan dukacita. Ketika merawat klien dan
keluarga, parawat juga mengalami kehilangan pribadi ketika hubungan
klien-kelurga-perawat berakhir karena perpindahan, pemulangan, penyembuhan atau
kematian. Perasaan pribadi, nilai dan pengalaman pribadi mempengaruhi seberapa
jauh perawat dapat mendukung klien dan keluarganya selama kehilangan dan kematian
(Potter & Perry, 2005).
1.2 Permasalahan
Adapun
permasalahan yang kami angkat dari makalah ini adalah bagaimana asuhan
keperawatan pada klien dengan kehilangan dan kematian disfungsional.
1.3 Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini,
adalah:
a. Mengetahui
pengertian pasien yang kehilangan.
b. Mengetahui karakteristik situasi kehilangan dan kematian.
c. Mengetahui pengertian klien yang hamper meninggal (sakratul maut)
d. Mengetahui merawat jenazah
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DAN KERANGKA BERPIKIR
2.1 Kehilangan
2.1.1 Definisi kehilangan
Kehilangan
adalah perubahan dari sesuatu
yang ada menjadi tidak ada atau situasi yang diharapkan terjadi tidak tercapai.
Dapat dikatakan bahwa kehilangan adalah suatu kondisi ketika seseorang
mengalami kekurangan sesuatu yang sebelumnya ada, misalnya kematian orang yang
dicintai dan pemutusan hubungan kerja (PHK).Berduka adalah respon individu
terhadap kehilangan.( Dr.BudiAnna Keliat, S.Kp,MApp.Sc DKK, 2002)
2.1.2 Sumber kehilangan
Sumber kehilangan yang dapat diidentifikasi, adalah sebagai
berikut;
1.
Kehilangan orang yang dicintai, misalnya perpisahan,
kematian, perceraian.
2. Kehilangan aspek diri ( biopsikososial), misalnya kehilangan fungsi
tubuh (biologis),kehilangan peran social (pekerjaan, kedudukan).
3. Kehilangan objek eksternal misalnya, kehilangan uang atau harta benda,
rumah, dan hewan kesayangan.
4. Kehilangan lingkungan yang telah dikenal.
(Dr.Budi Anna Keliat,
S.Kp,MApp.Sc DKK, 2002)
2.1.2 Tahap-tahap
kehilangan
Proses berduka yang disebabkan oleh kehilangan dibagi dalam lima tahap,
yaitu;
1.
Tahap penyangkalan
Reaksi pertama individu yang kehilangan adalah
terkejut, tidak percaya, merasa terpukul dan menyagkal pernyataan bahwa
kehilangan itu betul terjadi. Individu yang mengalami kehilangan ( kematian)
orang yang dicintai seolah-olah orang tersebut masih hidup. Dia mungkin
mengalami halusinasi melihat orang yang meninggal tersebut berada ditempat
biasanya ia berada atau merasa mendengar suaranya.Reaksi fisik yang terjadi
pada tahap penyangkalan adalah keletihan, kelemahan, kepucatan, mual, diare,
sesak nafas, detak jantung cepat, menangis, gelisah. Reaksi demikian dapat
berlangsung selam beberapa menit sampai beberapa tahun.
2.
Tahap Marah
Serupa dengan individu
dengan keadaan menjelang ajal, individu mulai sadar tentang kenyataan
kehilangan yang terjadi.Individu menunujukkan perasaan marah yang meningkatkan
dan sering diprojeksikan kepada orang yang ada dilingkungannya atau orang-orang
tertentu. Reaksi fisik yang sering terjadi pada thap ini antara lain wajah
merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal.
3.
Tahap tawar menawar
Apabila individu telah
mampu mengungkapkan rasa marahnya, maka ia maju tahap tawar menawar. Reaksi
sering dinyatakan dengan kata-kata “seandainya saya hati-hati”, “kenapa harus
terjadi pada keluarga saya”.
4.
Tahap Drepresi
Pada tahap ini individu
sering menunujukkan sikap menarik diri, tidak mau bicara atau putus asa. Gejala
fiisik yang sering diperlihatkan adalah menolak makan, susah tidur, letih,
libido menurun.
5.
Tahap penerimaan
Tahap ini berkaitan
dengan reorganisasi perasaan kehilangan.Pikiran yang selalu terpusat dengan
objek atau orang yang hilang akan mulai berkurang atau menghilang. Individu
telah menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya, gambaran tenntang objek
atau orang yang hilang mulai dilepaskan dan secara bertahap perhatian dialihkan
kepada objek yang baru. Tahap penerimaan ini biasanya diungkapkan dengan
kalimat “saya betul-betul menyayangi tas saya yang hilang, tetapi tas saya yang
ini manis juga”. ( Suliswati, S.Kp,M.Kes
dkk 2012)
2.2 Kematian
2.2.1 Definisi Kematian
Kematian/mati adalah apabila seseorang tidak teraba denyut nadinya,
tidak bernafas, selama beberapa menit, dan dan tidak menunjukan segala refleks,
serta tidak ada kegiatan otot. (H. Wahyudi Nugroho, B.Sc.,SKM)
2.2.2
Penyebab Kematian
1. Penyakit
a. Keganasan (korsinoma hati, paru, mammae).
b. Penyakit kronis, misalnya:
·
CVD (cerebrovasukular
diseases)
·
CRF (chronic renal
failure [gagal ginjal])
·
Diabetes mellitus
(gangguan indokrin)
·
MCI (myocard infarct
[gangguan kardiopaskular])
·
COPD (chronic
obstruction pulmonary diseases)
2.
Kecelakaan (hematoma epidural)
Ciri/tanda klien lanut usia menjelang kematian.
1. Gerakan dan pengindraan menghilang secara beransur-ansur,
biasanya dimulai pada anggota badan khususnya kaki dan ujung kaki.
2. Gerakan peristatik usus menurun.
3. Tubuh klien lanjut usia tampak mengembung.
4. Badan dingin dan lembab terutama pada kaki tangan,
tangan, dan ujung hidungnya.
5. Kulit tambah pucat berwarna kebiruan atau kelabu.
6. Denut nadi mulai tidak teratur.
7. Nafas berdengkur berbunyikeras (stridor) yang
disebabkan oleh adanya lendir pada saluran pernafasan yang tidak dapat
dikeluarkan oleh klien lanut usia.
8. Tekanan darah menurun.
9. Terjadi gangguan keasadaran (ingatan menjadi kabur)
2.2.3
Tahap Kematian
Tahap-tahap ini tidak selamanya berurutan secara tetap, tetapi dapat
saling tindih. Apabila tahap tertentu berlangsung sangat singkat, bisa timbul
kesan Seolah-olah klien lanjut usia melompatisatu
tahap, kecuali jika perawa tmemerhatikan secara sesame dan cermat.
1.
Tahap pertama
(penolakan)
Tahap ini adalah
tahap kejutan dan penolakan.Biasanya,sikap itu ditandai dengan
komentar,“Saya?Tidak,itu tidak mungkin,”selama tahap ini,klien lanjut usia
sesungguhnya mengatakan bahwa maut menimpa semua orang, kecuali dirinya.Klien
lanjut usia biasanya terpengaruhioleh sikap penolakannya sehinggaia tidak
memperhatikanfaktayang mungkin sedang dijelaskan kepadanya oleh perawat.Ia
bahkan menekan apa yang telah ia dengar atau mungkin akan meminta
pertolongan dari berbagai macam sumber
professional dan nonprofessional dalam upaya melarikan diri dari kenyataan
bahwa maut sudah berada diaambang pintu.
2.
Tahap kedua (Marah )
Tahap ini ditandai rasa marah dan emosi yang tidak terkendali.
Klien lanjut usia itu berkata, “Mengapa saya ?”Sering kali klien lanjut usia
akan selalu mencela setiap orang dalam segala hal. Ia mudah marah terhadap
perawat dan petugas kesehatan lainnya tentang apa yang mereka lakukan. Pada
tahap ini, klien lanjut usia lebih menganggap hal ini merupakan hikmah, dari
pada kutukan. kemarahan disini merupakan mekanisme pertahanan diri klien lanjut
usia. Akan tetapi, kemarahan sesungguhnya tertuju kepada kesehatan dan
kehidupan.Pada saat ini, perawat kesehatan harus hati-hati dalam memberi
penilaian sebagai reaksi yang normal
terhadap kematian yang perlu diungkapkan.
3.
Tahap ketiga
(tawar-menawar)
Pada tahap ini klien lanjut usia padahakikatnya berkata,
“ya, benar aku, tetapi….”Kemarahan biasanya mereda dan klien lanjut usia
dapat menimbulkan kesan sudah dapat
menerima apa yang sedang terjadi dengan dirinya.Akan tetapi pada tahap tawar
menawar ini banyak orang cenderung
meyelesaikan urussan rumah tangga mereka sebelum maut tiba, dan akan
menyampaikan beberapa hal, misalnya membuat surat dan mempersiapkan jaminan
hidup bagi orang yang tercinta sebelum ditingalkan.
Selama tawar
menawar, permohonan yang dikemukahkan hendaknya dapat dipenuhi karena merupakan
urusan yang belum selesai dan harus diselesaikan sebelum mati. Misalnya, klien
lanjut usia mempunyai permintaan terahir untuk
melihat pertandingan olahraga, mengunjungi kerabat, melihat cucu
terkecil, atau makan direstoran. Perawat dianjurkan memenuhi permohonan itu
karena membantu klien lanjut usia memasuki tahap berikutnya.
4.
Tahap
keempat(sedih/depresi)
Pada tahap ini klien lanjut usia pada hakikatnya
berkata, “ya, bener aku”. Hal ini biasanya merupakan saat yang menyedikan
karena klien lanjut usia sedang dalam suasana berkabung. Dimasa lampau, dia
sudah kehilangan orang yang dicintai dan sekarang dia akan kehilangan nyawanya
sendiri. Bersamaan dengan itu, ia harus meningalkan semua hal yang menyenangkan
yang telah dinikmatinya. Selama tahap ini,klien lanjut usia cenderung tidak
banyak bicara dan sering menangis. Saatnya bagi perawat untuk duduk dengan
tenang disamping klien lanjut usia yang seadang melalui masa sedihnya sebelum
meningeal.
5.
Tahap
kelima(menerima/asertit)
Tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian.
Menjelang saat ini, klien lanjut usia telah membereskan segala urusan yang
belum selesai dan memungkinkan tidak ingin bicara lagi karena sudah menyatakan
segala sesuatunya. Tawar-menawar sudah lewat dan tibahlah saat kedamaian dan
ketenangan. Seseorang mungkin saja lama ada dalam tahap menerima , tetapi bukan
tahap pasrah yang berarti kekalahan. Dengan kata lain, pasrah pada maut tidak
berarti menerima maut.
2.2.4 Pengaruh Kamatian
Pengaruh kematian terhadap keluarga klien lanjut usia.
1. Bersikap kritis terhadap cara perawatan.
2. Keluarga dapat menerima kondisinya.
3. Terputusnya komunikasi dengan orang yang menjelang
maut.
4. Penyeselan keluarga dapat mengakibatkan orang yang
bersangkutan tidak dapat mengatasi rasa sedih.
5. Pengalihan tanggung jawab dan beban ekonomi.
6. Keluarga menolak diagnosis. Penolakan tersebut dapat
membesar beban emosi keluarga.
7. Mempersoalkan kemampuan tim kesehatan.
Pengaruh kematian terhadap tetangga atau teman.
1. Simpati dan dukungan moril.
2. Meremehkan atau mencela kemampuan tim kesehatan.
( H. Wahyudi Nugroho, B.Sc.,SKM)
2.2.4 Tanda dan gejala berduka
Ø Efek Fisik
·
Letih
·
Selera makan hilang
·
Masalah tidur
·
Kurang tenaga
·
Berat badan menurun
·
Nyeri kepala
·
Pandangan kabur
·
Sulit bernapas
·
Palpitasi
·
Berat badan meningkat
·
Lengan gatal
·
gelisah
Ø Efek emosional dan / atau psikologis
·
Menyangkal
·
Rasa bersalah
·
Marah
·
Benci/dendam
·
Pahit atau getir
·
Depresi
·
Merasa gagal
·
Konsentrasi pada
masalah
·
Gagal menerima
kenyataan
·
Terpaku pada kematian
·
Konfusi waktu (time
confusional)
·
Iritabilitas (mudah
tersinggung)
Ø Efek sosial
·
Menarik diri dari
aktivitas normal
·
Isolasi (emosional dan
fisisk) dari pasangan,keluarga,atau teman-teman
(Bobak.Lowdermilk. Jensen) (2012)
2.2.5 Karakteristik
situasi kehilang, menurut burgers dan lazare (1976)
1.
Berduka yang
menunjukkan reaksi syok dan ketidak yakinan.
2.
Berduka yang
menunjukkan perasaan sedih dan hampa bila teringat tentang kehilangan
orang yang disayangi.
3.
Berduka yang
menunjukkan perasaan tidak nyaman dan sering disertai dengan menangis, serta
keluh-keluhan sesak pada dada, rasa tercekik, napas pendek.
4.
Mengenang almarhum
terus menerus.
5.
Memperolreh pengalaman
perasaan berduka.
6.
Cenderung menjadi mudah
tersinggung dan marah.
(Suliswati, S.Kp,M.Kes dkk 2012)
2.2 Pengertian klien yang hampir meninggal
(sakratul maut)
2.3.1 Definisi Menjelang Sakratul maut.
Hampir meninggal atau
menjelang ajal adalah kondisi ketika secara medis dan legal indivindu sudah
tidak dapat di obati dan diintervensi yang berhubugan dengan kematian atau fase
kehidupan, dan individu sangat ansietas menghadapinya.Keluarga dapat mengetahui
kondisi ini dari tenaga kesehatan atau tanda dan gejala yang diperlihatkan oleh
pasien.Kondisi ini mempengaruhi respons keluarga dalam menghadapi anggota
keluarga yang menjelang ajal, baik presepsi personal keluarga ataupun pengaruh
spiritual dan pengalaman yang dimiliki keluarga.
Proses kematian diawali dengan terjadinya gangguan
fumgsional sirkulasi (denyut nadi melemah) dan respirasi (napas melambat)
secara mendadak,tidak adanya aktifitas jantung (henti jantung), kehilangan
total fungsi serebral, tidak adanya respons eksternal, tidak adanya refleks
sensorik, dan hipotermia. Situasi kematian dapat terjadi secara terduga dan
tidak terduga.Keluarga sebagai system pendukung, memiliki koping yang
bervariasi termasuk respons terhadap kondisi menjelang ajal. (Musrifatul
Uliyah, dkk 2008)
2.3.2 Tanda-tanda pasien menjelang ajal
1. Sedih dan Menangis.
2. Ketakutan.
3.Kesakitan.
4. Sulit tidur dan gelisah.
5. Tidak mampu berkonsentrasi.
6. Menarik diri dan fasif.
7. Menyesali diri dan rassa bersalah.
( Dr. Budi Anna Keliat,
S.Kp.M.App.Sc DKK th 2002)
2.3.3 Merawat Jenazah
Ø Perawatan setelah kematian
Disebagian besar negara
bagian dokter bertanggung jawab untuk mencatat kematian dalam catatan medis
dengan menuliskan waktu kematian dan deskripsi terapi dan tindakan yang
dilakukan.Dokter mungkin membutuhkan ijin dari keluarga untuk melakukan
autopsi.Autopsi diperlukan dalam situasi kematian yang tidak wajar (misalnya
trauma tindak kekerasan atau kematian diluar dugaan yang terjadi dirumah).
2.3.4 Perubahan Fisiologis Sesudah Kematian
|
Perubahan Intervensi
yang berhubungan
|
|
|
Kekuan (rigor mortis) yang terjadi 2-4 jam sesudah kematian (yang
mencakup kontraksi skelet dan otot akibat tidak adanya adenosin trifosfat).
|
Sebelum terjadinya rigor mortis, posisikan tubuh
dalam posisi anatomis, tutup mata, dan pasang gigi palsu dalam mulut.
|
|
Penurunan suhu tubuh dengan kehilangan elastisitas
kulit (algor mortis).
|
Lepaskan plester dan balutkan dengan perlahan untuk
menghindari kerusakan jaringan. Hindari menarik kulit atau bagian tubuh.
|
|
Perubahan warna kulit menjadi keunguan (lipor
mortis) pada bagian dependen akibat pecahya sel darah merah..
|
Tinggikan kepala untuk mencegah perubahan warna pada
wajah.
|
|
Pelunakan dan pencairan jaringan tubuh oleh
fermentasi bakteri.
|
simpan tubuh dalam teapat yang dingin dikamar mayat
rumah sakit atau ditempat lain yang ditunjukkan.
|
2.2.5
Perawatan pada jenazah
1. Tempatkan dana atur jenazah pada posisi anatomis.
2. Singkirkan pakaian.
3. Lepaskan semua alat kesehatan.
4. Bersihkan tubuh dari kotoran dan noda.
5. Tempatkan kedua tangan jenazah di atas abdomen dan
ikat pergelangannya (berganutung dari kepercayaan atau agama).
6. Tempatkan satu bantal di bawah kepala.
7. Tutup kelopak mata. Jika tiadak ada tutup, bisa
menggunakan kaps basah.
8. Katupkan rahang atau mulut, kemudian ikat dal letakkan
gulungan handuk di bawah dagu.
9. Letakkan alas di bawah glueta.
10. Tutup samapai sebatas bahu, kepala di tutup dengan
kain tipis.
11. Catat semua milik pasien dan berikan kepada keluarga.
12. Beri kartu atau tanda pengenal.
13. Bungkus jenazah dengan kain panjang.
2.2.6
Perawatan jenazah yang
akan diotopsi
1. Ikuti prosedur rumah sakit dan jangan lepas alat
kesehatan.
2. Beri label pada pembungkus jenazah.
3. Beri label pada alat protesis yang digunakan.
4. Tempatkan jenazah pada lemari pendingin.
2.2.7
Perawatan terhada
keluarga
1.
Dengarkan ekspresi
keluarga.
2.
Beri kesempatan bagi
kelaurga untuk bersama dengan jenazah beberapa saat.
3.
Siapkan ruangan khusus
untuk berduka.
4.
Bantu keluarga untuk
membuat keputusan dan perencanaan pada jenazah.
5.
Beri dukungan jika
terjadi disfungsi berduka.
(salemba medika,
Musrifatul Uliyah. A.Aziz Alimul Hidayat DEPKES/2008)
BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kehilangan, dan
kematian adalah peristiwa dari
pengalaman manusia yang bersifat universal dan unik secara individual.Hidup
adalah serangkaian kehilangan dan pencapaian.Seorang anak yang mulai belajar
mencapai kemandirian dengan mobilitas.Seorang lansia dengan perubahan visual
dan pendengaran mungkin kehilangan keterandalan-dirinya.
Kematian/mati adalah apabila seseorang tidak teraba denyut nadinya,
tidak bernafas, selama beberapa menit, dan dan tidak menunjukan segala refleks,
serta tidak ada kegiatan otot.
Berduka diantisipasi adalah suatu
status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual
ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan
fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.
Berduka disfungsional adalah suatu
status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat
individu kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan,objek dan
ketidakmampuan fungsional.Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal,abnormal,atau
kesalahan/kekacauan.
Peran perawat adalah untuk
mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka
terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati.
DAFTAR PUSTAKA
Potter
& Perry. 2005. Fundamental Keperawatan volume 1. Jakarta: EGC.
Suliswati. 2012. Konsep dasar Keperawtan Kesehatan
jiwa: Berduka dan
kehilangan. Jakarta: EGC
keliat.
2011. Manajemen
Keperawatan Psikososial & Kader Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Nugroho Wahjudi H. 2011. Keperawatan Gerontik & Geriantik, ed.3. Jakarta: ECG.
Bobak Irene M. 2012.Keperawatan Maternetas, ed.4. Jakarta: ECG.
Musrifatul Hidayat. 2008. Keterampilan Dasar
Praktek Klinik, ed.2.Jakarta: Salemba Medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar